
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Pada tanggal 12 Januari 2026, saya bersama teman-teman divisi choreo melakukan latihan tarian uprak. Pada…
Hari itu merupakan pertama kali kami mematangkan gerakan sebelum diserahkan kepada Bapak/Ibu guru. Kami menyelaraskan…
Pada kesempatan hari ini, kami melakukan latihan tarian uprak di Francis Room. Hari ini merupakan…
Hari ini merupakan hari terakhir kami melakukan latihan bersama dengan guru-guru pendamping. Saya merasa tarian…
Pada tanggal 21 Januari 2026, saya bersama teman satu sie makeup melaksanakan tugas makeup untuk…