
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Pada tanggal 31 Januari, kami satu kelas berkumpul di rumah Kevin untuk melakukan praktek drama…
Pada tanggal 30 Januari, kami melakukan latihan di rumah Kevin dan berangkat bersama dari kos…
Pada tanggal 29 Januari, saya bersama anggota dekor melakukan perbaikan pada properti box yang digunakan…
Pada tanggal 28 Januari, saya berada di kos dan membawa pulang properti senjata untuk dikerjakan…
Pada 24 Januari, hari Rabu, kami bangun lebih pagi untuk melanjutkan persiapan dekorasi. Saya bersama…