
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Dalam 3 hari tersebut, saya dan teman-teman berkumpul di rumah Celine untuk latihan bersama menjelang…
Saat di sekolah, kami memperoleh jadwal latihan mandiri di Vincentius Hall mulai jam 07.00-08.30, sehingga…
Hari ini, kami latihan mandiri di Bangsal Lazaris mulai 08.30-10.00. Saya merasa agak sayang dengan…
Pada 30 Januari, kami berlatih bersama di salah satu rumah teman kami. Menurut saya, latihan…
Pada 27 Januari, kami sekelas berlatih bersama di bangsal. Kami berlatih pada jam pelajaran pertama…