
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Pada 23 Januari, kami sekelas menyewa studio di marvell untuk berlatih uprak. Pada hari itu,…
Pada 31 Januari, kami berlatih bersama di salah satu rumah teman kami. Pada hari itu,…
Hari H – Hari Kamis tepat tanggal 12 Februari 2026 adalah hari tampil kita dipukul…
Pada hari itu, kami berlatih di rumah salah satu teman kami untuk runthrough. Kami berlatih…
Pada hari ini, saya bersama anggota tim choreo melakukan latihan choreo bersama anggota backdancers. Kami…