
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Hari ini saya Dan Tim dekorasi mendiskusikan properti apa saja yang kurang.
Hari ini saya mengecatkan kain supaya dapat dilihat Kotor Dan menuliskan tulisan.
Hari itu, saya mendiskusikan penyewaan kostum sekaligus membuat feeds Instagram yang nantinya menjadi bentuk promosi…
Pada saat itu, saya bersama teman-teman memindahkan properti yang sebelumnya disimpan di Rumah Axelle ke…
Di V-Hall, saya latihan sebagai pemeran bersama teman-teman tercinta ini. Kita mencoba scene-scene 1 hingga…