
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Axelle Dwiananta/02, Genevieve Laura Santoso/08, Justin Morgan Hariyanto/16, Lana Quinn Soetedjo/20, Shawn Olen/32, Steven Tandyo/33
Alexius Austin Handrian/XIIA5/01Edward Setiawan/XIIA5/06Helena Angelica Bani/XIIA5/13Kenneth The/XIIA5/18Raphael Kristoff Roesli/XIIA5/27
Cita rasa khas utara: Heilongjiang (黑龙江) Beragam masakan khas dapat dijumpai di seluruh wilayah Tionghoa.…
Acara Turnamen Mahjong dan side quest memasak kelas XII-A5 yang berjalan dengan lancar pada Jumat,…